Jumat, 17 April 2009

Jalan Ngaliyan – Boja Makin Tak Layak Pakai

Tanggung Jawab Siapa?

Proyek pelebaran jalan ngaliyan–Boja belum juga selesai, berbagai persoalan pun dinilai menjadi hambatan, dari mulai dana operasional, pembebasan lahan warga dan lainnya. Kelanjutan proyek Jalan Ngaliyan-Boja akan dimulai akhir April mendatang, dengan melakukan pemindahan utilitas (sarana perlengkapan umum seperti pipa PDAM, kabel telepon, dan tiang listrik) di ruas jalan depan Kantor Yayasan Sudirman hingga Pasar Jrakah.

Entah karena menunggu sampai tenggang waktu tersebut atau karena persoalan yang menghinggapi proses kelanjutan pelebaran jalan, kini kondisi jalan sangat mengenaskan. Jalan dari mulai pasar Ngaliyan sampai Boja banyak terdapat kerusakan yang sangat parah, banyak lubang-lubang berskala besar yang berakibat bisa membahayakan para pengguna jalan.

Pemerintah seakan-akan tidak peduli dengan kondisi jalan sekarang, lubang-lubang yang menganga dibiarkan begitu saja tanpa ada usaha untuk memperbaikinya demi keselamatan dan kenyamanan pengguna jalan. Kerusakan tersebut diakibatkan karena hujan yang melanda wilayah semarang dan sekitarnya pada beberapa bulan kemarin, ditambah dengan banyaknya jumlah angkutan yang melewati jalan tersebut. Kondisi tersebut juga diperparah oleh truk-truk berukuran dan bermuatan besar seperti truk tronton yang melintasi jalan tersebut.

Seharusnya pemerintah bertindak cepat guna memperbaiki jalan yang rusak, tanpa menunggu kelanjutan proses pelebaran jalan karena disinyalir malah akan menambah parahnya kondisi jalan. Pelebaran jalan Ngaliyan–Boja baru sampai di wilayah Ngaliyan saja, bahkan di pertigaan Jrakah, tepatnya di pasar Jrakah belum terlaksana. Ini semakin menambah molornya proyek pelebaran tersebut. Proyek pelebaran jalan yang rencananya berakhir tahun 2010 bisa-bisa molor sampai beberapa tahun berikutnya.

Dengan semakin beretambahnya jumlah pengguna jalan Ngaliyan-Boja, perbaikan sementara terhadap jalan yang rusak parah harus dilakukan sampai dimulainya kelanjutan proyek pelebaran. Dengan demikian maka akan mengurangi bahaya dan kecelakaan di jalur tersebut dan akan memberikan kenyamanan para pengguna jalan walaupun sedikit.

Senin, 01 September 2008

Klasik Itu Indah

Mahalnya harga minyak dan langkanya eLPiJi (LPG) membuat masyarakat kecil dan menengah ketar-ketir dibuatnya. Bagaimana tidak, setelah pemerintah memutuskan mengkonversi minyak tanah ke LPG, kini persoalan datang lagi, yaitu semakin langkanya keberadaan LPG di beberapa kota di Indonesia, bahkan saking langkanya, harganya pun melonjak tajam.
Kini masyarakat dihadapkan pada persoalan menyambung hidup. Harga BBM yang semuanya menanjak dari minyak tanah sampai bensin dan solar, membuat hidup mereka semakin susah. Mahalnya harga BBM tersebut juga membuat kebutuhan pokok sebagian masyarakat menjadi meroket tajam. Ini artinya bahwa masyarakat menjadi susah dan bertambah menderita.
Kini beruntung bagi masyarakat pedesaan. Sejak dahulu smapai sekarang mereka masih setia menggunakan kayu sebagai alternatif bahan bakar untuk memasak. Dengan mmebuat dapur (tungku) yang terbuat dari batu dilapisi dengan tanah liat, membuat mereka nyaman dalam memasak. Ini ditunjukkan oleh seluruh masyarakat di Kecamatan Reban Kabupaten Batang, Jawa Tengah, mereka pada umumnya masih menggunakan tungku dari tanah dan berbahan bakar kayu untuk memasak sehari-hari.
Selain irit BBM, masakan juga akan terasa lebih harum dan sedap, karena tidak menggunakan gas ataupun minyak tanah, masaka pun cepat matang.

Klasik itu Indah

Meja dan Kursi Kuno yang Bernilai Mahal

Siapa sangka kalau benda-benda kuno sekarang banyak dicari oleh para kolektor benda-benda klasik. Tidak hanya bentuknya saja yang kuno, tetapi juga nilai sejarah serta keindahan seninya. Bisa dilihat, bahwa zaman sekarang orang-orang mulai terjerumus dengan yang namanya era moderniasi. Itu bisa diartikan mereka akan meninggalkan semua yang berbau jadul (jaman dulu) dan beralih pada semua yang modern, semisal benda-benda kebutuhan sehari-hari.
Dengan beralihnya masyarakat kepada hal yang bersifat modern, maka menghilanglah (langka) benda-benda yang dulu biasa digunakan, seperti meja, kursi, patung dan lain sebagainya.
Banyak orang yang hobi mengkoleksi benda-benda kuno, dan mereka inilah penyelamat keberadaan hasil seni budaya masyarakat, sampai-sampai karena hal itulah benda-benda kuno ini nilainya menjadi mahal dengan alasan nilai seni dan sejarahnya.
Inilah salah satu contoh peninggalan benda-benda masa kuno warisan nenek moyang sebuah keluarga yang masih digunakan karena nilai sejarah dan seninya. (Desa Sojomerto Kec. Reban Kab. Batang, Jawa Tengah)